August 2nd, 2008 by dustakecil
kamu siapa dan siapa aku
tentu hanya hati dan Ia yang tahu
sedalam apa coba bertanya
hanya hampa nanti terungkap.
semoga kita bukan lagi bertopeng
karena topeng menghalangi senyum.
apalah arti warta tentang kenal
juga angin bagian dari berita
pun begitu juga dengan dunia ini
asal nafas kita satu bagian takdir.
ketika waktu adalah jawaban mimpi
hidup ini terlalu indah untuk dimengerti.
Posted in naluri batu | 1 Comment »
July 3rd, 2008 by dustakecil
angin bawa jiwa ini terbang
ketika masa tlah hilang.
kemarin seperti awang-awang
nuansa melambai dalam tenang.
-
sejuk lembayung rumah kita
belum getarkan rasa cinta.
entah roda berputar pelan
aku masih berpendar, kawan.
Posted in naluri batu | No Comments »
July 3rd, 2008 by dustakecil
tertambat untuk sesaat
di peluk rumput aku tersesat
apakah bintang masih bersinar
dalam kereta kencana, aku berujar:
-
"masih terlihat jelas
dinding gelas dan hati cemas,
mari kita berkemas lepas!"
-
laju-laju dalam waktu
adakah tentang suka warta
genta yang kau tabuh
getarkan tuk beranjak.
Posted in naluri batu | No Comments »
July 3rd, 2008 by dustakecil
ketika hitam serupa bayang
di mana letak kenyataan
takkah ia berbatas mayapadha
takkah ia utusan dewata
atau sekedar jalan terang
menuju rumah kosong keabadian.
-
ia bukan wujud dalam ukiran
senandung setiap suluknya
setinggi saloka sukma santosa.
-
dalam gelap ia terbit
dalam kosong tenggelam kembali
dalam batas empat sisi
dalam kebebasan kurung saji.
-
hitam-putih-hitam
gelap-terang-gelap
kosong-isi-kosong
-
hitam-gelap-kosong
putih-terang-isi
hitam-terang-kosong
-
putih-gelap-isi
hitam-terang-isi
putih-gelap-kosong
-
ayah, ibu, anak
aku, kamu, dia
kami, kita, mereka
lahir, hidup, mati
manusia, alam, tuhan
tripama, trimurti, triwikrama.
Posted in naluri batu | No Comments »
May 25th, 2008 by dustakecil
nduk, hari larut pagi
ayam jantan berkoar ramai
jangan tertidur, ri!
malu, seratus masa selalu sendiri.
ri, kala baris sepuluh-sepuluh
coba hitung apa tambah.
jangan bermimpi, nduk!
waktu sudah tenggelam, lekas berbenah.
nduk, kamu telat lagi
bawaan lahir atau lupa tanggal.
jangan berdalih, ri!
belum cantik sudah manja.
bim! bim!
suara klakson kalut menari
roda setengah berputar mesin mati.
genduk sari, kapan kamu berbakti?
Posted in naluri batu | No Comments »
April 22nd, 2008 by dustakecil
Ada bukan tempat mengada
ketika kata adalah usapan waktu
hutan tak terlihat pekat
bukan pula tinta menjadi lumpuh.
Pergi menjauh bersaing lentera
Selalu bertempuk kalbu
Di depan keinginan merdeka
Hasrat ruang kata bukan butir abu.
Kata yang terikat kala
adalah mimpi dalam istana
selalu sesak meski begitu luas
setiap rongganya selaksa bayang.
Lorong, lorong, berkelana
Kosong, kosong, tertimbun kata
Lorong, kata, berkelana
Kosong, berkelana, tertimbun kata
Berkelana, kosong, lorong
Tertimbun kata, lorong, kosong
Kosong, lorong
Berkelana, tertimbun kata.
Posted in naluri batu | No Comments »
April 22nd, 2008 by dustakecil
kapan yach, dapet senyum manis itu??
kadang rindu juga melihat karya Hyang Agung
tanpa keindahan sempurna yang sudah diberikan.
ada apa gerangan, sobat??
apa semua harus dibeli?
tak cukupkah sapa ini berbalas??
atau segenggam embun pagi
jadikan ia berharga.
tanah tempatnya melangkah
seperti jejak sepatu, tertanam dan musnah.
peluh ini tertumpah bercampur darah
demi tanah tempatnya melangkah.
ketika hanya senyum kuharap,
takkah itu berlebih??
takkah itu sederhana??
takkah itu terima kasih??
takkah itu balas budi??
atas tanah tempat ia melangkah
kini dan sepanjang masa nanti!!
tak pernah berbalas,
sobat.
Posted in Sastro Conthong | No Comments »
April 18th, 2008 by dustakecil
Kepingan waktu beranjak pulang.
Suara merpati berkejaran manja.
Hentikan saujana ilalang.
Patahkan kereta mimpi senja.
Demi bintang keberapa langit tercipta?
Apakah senandung ombak terdengar kelam.
Di tengah dentum selaksa asmara.
Kabar adalah dewi kenyataan.
Masih terlihat sela kirana.
Senyum resah bahana.
Pelan dalam gugus bintang melambai.
Relung kiblat hati terangkai dawai.
Tungku bara mendekap lirih.
Rona terpancar tentangmu tak hilang.
Tak letih tajam menatap dunia.
Langit masih mendung kulihat.
Awan hitam terus menari riang.
Menjeratku bimbang.
Apa kabar ruang jauh?
Tak hilangkah gejolak.
Detak dan sinar coba sentuh.
Lalu asmara lalap desak.
Dalam permata goyah kan peluk.
Posted in Sastro Conthong | No Comments »
March 7th, 2008 by dustakecil
Mungkin jika sukma ini cukup besar
rasa kembali itu tak menghindar
Waktu hanya sekejap roda putar
selama tak patah, ia tetap melingkar.
Bukan waktu aku melayang
Bukan angkasa aku menghilang
Dalam laut aku tersesat
Dalam kesaksian aku melihat.
Hal tetap berlalu
kepergian adalah waktu.
Luka tak pernah menunggu
jika jalan datang bertemu.
Janji bukan sejati
Simpang ini ujung berita
Kalah rentang sebab hati
Pagi ini bukan milik kita.
Posted in Sastro Conthong | No Comments »
July 3rd, 2007 by dustakecil
Terdampar di tengah padang pasir
Rintik hujan terasa hangat dalam getir
Inikah jalan harus selalu berakhir
Berharap angan cepat hadir?
Lalu apa arti goda senyum
Lalu apa makna nafas harum
Dalam keheningan kita bersatu
Dalam kobaran tak pernah ragu
Hendak adalah milikmu
Telapak itu saksi bisu
Aku tetap berada dalam mangu
Aku tetap tengelam dalam debu
Bukan anggur pelepas dahaga
Bukan samudra di ujung dermaga
Bukan awan halangi angkasa
Bukan malaikat merenggut nyawa
Kembali lara sendiri, gelap
Termangu jiwa malas tegap
Dan romansa telah lenyap
Jiwa t’lah gentar pada harap
Posted in Mampir Ngombe | No Comments »